Saturday, 25 April 2015

Tentang Perasaan

"Mau fokus sama masa depan. Mau fokus sama kamu insya Allah,"

Seseorang berkromosom Y menyatakan kalimat itu ke gue baru baru ini. Entah apa yang ada di pikirannya. Mungkin itu cuma pernyataan sambil lalu.


Sejak kejadian terakhir kali hati gue patah, gue terus nyoba ngehibur diri dengan melakukan apapun yang gue suka. Emang sih salah satu cobaan terberat ketika lo putus sama orang dengan keadaan masih suka adalah buat gak nyari tau kabar terbaru orang itu. Dengan bersusah payah, gue bisa melakukannya.

Lalu perlahan-lahan Tuhan mengizinkan sakitnya ilang. Akhirnya gue berhasil naro dia sebagai masa lalu. Bukan untuk dilupain, tapi untuk dijadikan pelajaran hidup ke depan.
 

Hampir 3 tahun berlalu sejak kejadian yang cukup bikin hati dan pikiran sesek itu, seseorang yang lain yang cukup asing hadir di hidup gue.

Pada dasarnya gue adalah orang yang soliter. Terlalu cuek untuk ukuran cewek. Gue emang ngerasa cukup terbuka untuk bergaul sama orang baru siapapun itu, khususnya cowok. Tapi untuk mengizinkan mereka masuk ke sisi pribadi gue, sepertinya gue orang yang sangat tertutup.

Kemudian entah kenapa, gue mengizinkan orang ini masuk gitu aja.

Tentu bukan karena dia sempurna. Seperti yang selalu gue bilang di tulisan blog ini sebelum-sebelumnya, kalo kita nyari yang sempurna, kita akan selamanya nyari.

Dia cuma orang jelek yang saat ini bisa bikin gue bediri di depan cermin lebih lama. Seorang pemalu yang selalu bikin gue gregetan. Lebih dari itu dia seolah menjadi titik balik buat gue. Mengubah cara gue dalam memandang hidup.

Meskipun, pernah juga dia bikin gue kesel sampe nangis, tapi sejauh ini dia termasuk orang yang mau dengerin masukan. Menurut gue jarang cowok yang kayak gitu.


Lalu, ketika dia nyatain perasaannya ke gue, gue bingung mau bilang apa selain... terima kasih.

Hmm..

Pada akhirnya, gue gak tau perasaan ini akan sampai kapan. Baik perasaan dia terhadap gue atau pun sebaliknya. Gue cuma berharap bisa terus bareng-bareng belajar buat saling ngisi satu sama lain. Saling ngingetin satu sama lain.

Seperti yang pernah gue tweet,
takut itu bukan ketika kita salah trus ada yang ngasih kritik, tapi ketika gak ada lagi orang yang peduli saat kita ngelakuin salah.

Setiap orang punya jurus masing-masing dalam membina sebuah hubungan. Sama halnya dengan gue. Untuk diri gue pribadi, gue biasanya akan semakin menjaga diri. Meminimalisir kenakalan atau apapun yang bisa memperburuk image gue di mata Tuhan.

Bukankah pria yang baik untuk perempuan yang baik, dan sebaliknya. Ketika gue belum baik, gimana gue bisa ngarepin punya pasangan yang lebih baik dari gue. Ya gitu lah.

Buat kamu..
Bagaimanapun takdirnya ke depan, kita cuma bisa berdoa untuk yang terbaik. Rencana kita indah, tapi Tuhan selalu punya yang lebih indah. Pokoknya, terima kasih udah menuhin memory chat, pikiran dan hati gue sejauh ini. Terima kasih banyak.


By: @rinaatriana

0 comments:

Post a Comment

Salam kenal, ditunggu komennya. Kalo mau ngikutin postingan terbaru blog ini, tinggal masukin alamat email kamu dibawah tulisan "follow by email". Trus tekan submit. :)